Bagaimana sebuah sistem audio sudah layak disebut ideal? Parameternya memang banyak, tetapi ada satu intinya, yakni sistem itu harus bisa mengakomodir apa yang menjadi selera pemiliknya. Sistem ini harus bisa memuaskan rasa dahaga penikmatnya akan musik yang dia sukai. Itu yang utama, dan kami jadikan istilah singkatan baru, S3, yakni Sistem Sesuai Selera. Inilah yang kami jumpai di sistem milik Dr. Dede Budiman SpPD,Mkes.

Bahasan artikel di bawah ini pernah dimuat di media Audio Lifestyle. Ceritanya, saya (Gatot) dan Lukas Tan dari galeri Pro Audio, Bandung bertandang ke rumah Dede di sebuah kawasan perumahan di Bandung di sekitar bulan Juli 2014. Setelah tiba, Dede mengajak memasuki sebuah ruang yang dijadikan Dede sebagai ruang musik. Ada beberapa hal yang membuat cukup membuat ruang ini punya cita rasa tersendiri.
Pertama, ruangan audio Dede berukuran kecil untuk ukuran sistem yang dimilikinya saat itu (yang tentu lebih mendambakan ruang lebih besar), tetapi saat kami duduk di sofa dan mendengarkan dua lagu, nuansanya rileks dan suara tidak forward atau menyerang.
Kedua, ini adalah ruangan kerja Dede, sehingga tak heran bila didalamnya terdapat buku buku yang menunjang dia sebagai seorang dokter. Buku buku ini disusun dalam sebuah rak besar di sisi kiri ruangan. Ketakutan kami adalah, karena sifat buku yang menyerap suara, sangat potensial membuat suara lebih berat di sisi kanan. Tonal balance bisa terancam. Setelah memutar lagu, kesan ini tidak kami dapatkan.
Ketiga, sistem ini bisa mengakomodir aneka warna musik dari aneka genre album musik yang dimiliki Dede. Seperti apa kata Dede dan juga bung Lukas Tan dari galeri Pro Audio, Bandung yang menemani kami ke rumah Dede, pehobi ini suka akan aneka warna musik. Mulai dari jazz, country pop bahkan rock. Banyak koleksi piringan hitam dan CD-nya didapatkannya dari galeri Pro Audio. Begitupun dengan perangkat, berasal dari galeri yang berada di jalan Surya Sumantri 105 (ruko) Bandung ini.
Dokter yang bertugas di rumah sakit Santosa, Bandung ini sebenarnya bukan pemain audio baru. Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama hingga kini di usianya yang sudah menginjak 43 tahun, dis sangat suka mendengarkan musik. Awalnya dia main audio memakai pemutar CD Azur dari Cambridge Audio, lalu Audion Sterling yang dipadukan dengan power Totem denan watt kecil. Ini karena ruangan audionya kal itu berukuran kecil. Lebih kecil dari ruangan yang sekarang. Tetapi didapatinya suaranya bisa memuaskannya.
Menurutnya, dalam bermain audio, idealnya orang bermain secara bertahap, dengan memperhatikan apa selera musiknya. Ini bermanfaat untuk mengakomodirnya dengan sistem tertentu yang lebih maksimal.
“Baik dari CD atau piringan hitam, saya ingin mencari suara yang lebih kaya dan hidup. CD itu bagus tetapi kan tetap ada digitalnya. Sedangkan PH, itu analog dan sifatnya manual, tetapi bisa lebih hidup dan kaya”katanya.
Warna musik jazz, pop, klasik khususnya klasik Mandarin, country dan rock, khususnya rock di tahun 80-an, sangat disukai Dede. Tetapi kini dia mengakui lebih sering mendengarkan musik jazz.
“Saya ingin sound system ini bisa mengakomodir semua jenis musik saya diatas”kata Dede.
Beberapa artis sempat dia sebutkan sebagai artis favoritnya. Di lagu klasik Mandarin dia suka Tjaicin(bahkan memiliki koleksi lengkapnya). Juga Jacky Cheung, Basso dan Teresa Teng. Di genre Country dia suka Randy Travis dan Don William. Rock? Dia suka yang bukan heavy metal, seperti Queen, Toto dan White Snake.
Dede merasa puas, sistemnya mampu mengakomodir, bahkan untuk musik rock sekalipun, dinamikanya terakomodir. Salah satu yang mengesankannya, suara yang keras, bisa direpro dengan halus oleh sistem high endnya ini.
Rumah ternyata dijadikannya sebagai satu satunya tempat baginya mendengarkan musik. Di tempatnya praktek, dia tidak gunakan musik sebagai background karena menurutnya tempat prakteknya ini mengandalkan suara. Musik diyakininya bisa mengganggu.