Articles
Kamis, 07 Jan 2016
Sudah dibaca 5.227 kali
Mencoba menyiasati perilaku acoustic dalam ruangan
Post by : IHEAC-0297/008

MENCOBA MENYIASATI

PERILAKU AKUSTIK DALAM RUANGAN

SEHINGGA TERASA NYAMAN

 

Sering terjadi seseorang terpaksa menggunakan ruang yang tidak didisain khusus, menjadi sebuah ruang dengar.   Apabila itu yang terjadi, bagaimana sebaiknya kita menyiasati ruang tersebut?   Untuk menjawab itu penulis mencoba memacu para pemula untuk bereksperimen sendiri menggunakan cara ini supaya efektif dan efisien.  

Untuk mendapatkan hasil suara music dengan benar memang loudspeaker tidak bisa kita tempatkan sembarangan.   Sayangnya walau sudah ditempatkan dengan benarpun masih diperlukan tambahan bahan untuk dapat meredam suara suara pantulan yang terjadi.   Lalu apakah ada pedoman-pedoman untuk kedua hal itu?   Pedoman banyak sekali, sehubungan dengan bentuk ruangan dan karakter loudspeaker itu sendiri.   Lalu apakah semua pedoman sama?    Kalau tidak, mana yang wajib dipakai?    Semula penulis juga bingung karena memang banyak referensi, namun setelah saya amati sekian tahun lamanya, rupanya dari sekian banyak pedoman, ada kaidah pokok yang utama yang tidak dapat kita abaikan.   Kaidah pokok itu saya peroleh dari hasil membaca buku-buku referensi, tulisan di internet, mendengarkan music diberbagai ruang dengar, serta tanya jawab dengan kawan-kawan Iheac seperti sdr Fabi dan Herwin yang berpendidikan dibidang akustik, sdr Danny Chairil dan Kusnadi yang telinganya sangat peka, sdr Ationg, Ir.Haryono dan kawan-kawan yang penuh pengalaman yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu.   Dari masukan itu semua, maka penempatan speaker dan absorber pada umumnya, tampaknya dapat dirumuskan menjadi suatu kaidah pokok yang tidak boleh diabaikan, disamping tentu ada kekecualian sehubungan dengan bentuk ruang atau desain speaker yang khusus.   Untuk kedua hal itu saya belum mampu.   Harapan saya, walaupun kaidah pokok sudah saya rumuskan dengan hati hati, tetap saja ada kesalahan atau kekeliruan, maka koreksi dan masukan dari para ahli akustik dan audiophile tetap saya harapkan melalui chat di kolom ini, supaya bermanfaat dan tidak merugikan, terutama bagi pemula.   Untuk memudahkan, bahasan saya bagi menjadi dua yaitu, kaidah pokok penempatan speaker dan kaidah pokok penempatan absorber atau diffuser.

Kaidah pokok penempatan speaker.   Adapun kaidah pokok penempatan speaker yang tidak boleh diabaikan ada 6, yaitu :

  1. Bahwa speaker dan pendengar harus membentuk segitiga sama sisi, atau sama kaki.  

    Tanpa cara itu maka kita tidak akan pernah mendengar staging dan imaging dengan baik dan benar.   Semula kita  coba antara speaker dan pendengar membentuk segitiga sama sisi.   Jarak antara speaker yang ideal akan membentuk kesan panggung yang baik dan focus.   Lalu bisa dicoba jarak speaker dan tempat duduk diperjauh menjadi semacam segitiga sama kaki, dan bila menjadi kabur (tidak focus) kembali didekatkan, sampai focus kembali.

  2. Bahwa speaker makin dekat ke dinding, suara bass makin keras.  

    Namun bila terjadi dengung yang tidak enak dan dominan, cobalah menjauhkan speaker dari dinding dibelakangnya atau juga dari dinding samping.   Itu terjadi karena ruangan mulai beresonansi pada frekuensi dengung tersebut.

  3. Bahwa speaker makin jauh dari dinding, soundstaging makin bagus, terutama kedalamannya.

    Soundstaging atau kesan panggung terbentuk antara speaker dan dinding belakangnya, jadi dapat dicoba dijauhkan dari dinding sampai terbentuk kesan panggung yang terbaik.

  4. Bahwa posisi speaker dan posisi pendengar memungkinkan terdengarnya dengung pada frekuensi tertentu.

    Posisi speaker dan posisi pendengar bisa jadi berada tepat pada simpul terbentuknya resonasi ruangan yaitu pada frekuensi frekuensi tertentu, biasanya pada nada rendah bass.   Tanda-tandanya adalah nada itu seakan mendengung lebih keras dan lebih lama daripada nada bass lainnya.   Perlu diketahui bahwa ruang dapat ber-resonansi karena ada dua bidang yang sejajar.   Diruang biasanya ada 3 bidang yang sejajar yaitu dinding samping kiri-kanan, dinding muka-belakang dan lantai-plafon.  Lalu dari 3 itu mana yang membuat dengung?  Tetapi harap dikesampingkan dulu karena merubah dinding agar tidak sejajar itu bukan perbuatan mudah dan menyenangkan, maka sebelum melakukan perubahan dinding perlu dicari cara mudah lainnya.  

    Cara mudah itu antara lain pertama bisa digunakan rumus yang menyatakan bahwa untuk mendapatkan bass yang terbaik adalah dengan menempatkan speaker di garis 1/3 panjang ruangan (jarak antara dinding belakang speaker dan dinding belakang pendengar).   Tapi bila tidak dimungkinkan bisa dicoba 1/5 nya.   Setelah itu cobalah speaker atau juga tempat duduk pendengar dimajukan atau dimundurkan sedikit demi sedikit sampai terdengar bass yang paling mantap dan tidak berdengung.   Hal ini bisa dicoba dengan menggunakan lagu yang banyak bassnya.   Bila suara bass sudah terbentuk dengan halus maka suara midnya akan terdengar lebih jelas.  

    Kedua, bila dengung itu tetap ada dan kuat maka sudah perlu ditempatkan “bass trap”, suatu bahan yang menyerap nada bass menjadi energy di sudut-sudut tertentu.  

  5. Bahwa ketinggian kursi mempengaruhi tonal balance.

    Banyak loudspeaker dibuat dengan sebaran frekuensi menengah dan tingginya sangat terarah lurus kedepan, sehingga bila kita duduk lebih rendah atau lebih tinggi dari tweeter maka beberapa frekuensi tidak terdengar sama kuat, terutama frekuensi tingginya.   Tinggi tweeter pada umumnya berkisar antara 80cm sampai 100 cm dari lantai.   Jadi sebaiknya tinggi telinga kita adalah setinggi tweeternya.

  6. Bahwa Toe-in juga mempengaruhi tonal balance, kelebaran kesan panggung dan focus.

    Toe-in (yaitu mengarahkan speaker ke telinga pendengar, bukan ke samping telinga), tidak ada rumus yang mengatakan harus mengarah kedalam sekian derajat, karena tergantung kepada spesifikasi speaker dan ruang dengarnya.    Beberapa speaker perlu toe-in sedangkan speaker lain tidak perlu, cukup lurus kedepan tidak mengarah ke telinga.   Jadi untuk itu bisa dicoba sendiri mana yang lebih disukai suara treeblenya, dengan toe-in atau tidak.   Tetapi toe-in bagi beberapa speaker mempengaruhi tonal balance, kelebaran kesan panggung dan focus.

Prinsip mendengar music secara wajar.   Pada prinsipnya untuk dapat mendengar music sesuai rekaman, kita perlu mendapatkan hanya suara yang langsung keluar dari loudspeaker yang tidak tercampur dengan suara pantulannya, dan itu didapat kalau kita pakai earphone atau dengan mendekatkan telinga sedekat mungkin ke loud speaker.   Tetapi kita kan tidak terbiasa berbuat seperti itu, mendengarkan music di studio rekaman, di ruang kedap suara atau dihutan lebat atau bahkan di angkasa yang tidak ada echonya.   Yang biasa adalah, kita mendengar music di pentas, diruang atau digedung dimana tetap ada dinding dan benda benda lain yang memantulkan suara.  Tetapi kita juga tidak suka bila dinding itu polos seperti di kamar mandi, rumah kosong atau sport hall karena suara langsungnya bercampur dengan pantulan, sehingga suara asli menjadi tidak jelas, kabur dan kotor.   Untuk itu speaker yang sudah kita tempatkan dengan benar, suara yang keluar dan mengarah ke telinga perlu diamankan agar tidak terganggu atau tercampur dengan suara yang telah dipantulkan dinding atau benda lain.

Perlunya Absorber.   Untuk mengamankan agar suara asli tidak terganggu atau tercampur dengan suara yang dipantulkan dinding, maka sebelum suara pantulan sampai di telinga, suara itu perlu dieliminasi, dikurangi kerasnya dengan menggunakan absorber, bahan penyerap suara.      Tetapi, ruangan yang kebanyakan absorber juga tidak disarankan karena akan menjadi “dead”, mati, sunyi, suara banyak diserap, seperti di hutan lebat.

Kaidah pokok pemasangan absorber.  

  1. Pertama, bahwa suara pantulan yang mengganggu adalah pantulan yang datangnya kurang dari 30 mili detik, yang berarti suara pantulan itu baru menempuh jarak kurang dari 10,3 meter setelah suara langsung diterima.   Jadi bila suara langsung perlu jarak 2 meter untuk sampai telinga kita maka suara pantulan akan dipandang tidak mengganggu bila datang setelah menempuh jarak 2 m + 10,3 m = 12,3 m atau lebih.   Untuk itu bila ruang yang kita pakai berukuran termasuk kecil sampai sedang, dimana jarak suara pantulan dari speaker sampai telinga biasanya kurang dari 12,3 m maka ada 6 pantulan yang perlu kita serap yaitu  pantulan no.1 sampai no.6 (mohon lihat gambar).    Kemudian di tempat dimana suara akan memantul dan lalu mengarah ke telinga, disitulah dipasang absorber.   Cara mendapatkan tempat tersebut biasanya dengan bantuan cermin, yaitu dimana pendengar bisa melihat speaker melalui cermin yang ditempel sementara di dinding, dilantai atau di plafon, maka di tempat cermin itulah dipasang absorber.   Di gambar itu hanya ditampakkan contoh perjalanan suara dari satu speaker, speaker kanan, juga belum digambarkan pantulan kearah lain yang mungkin juga mengganggu.   Untuk dipahami, pantulan suara arahnya hampir sama seperti pantulan bola bilyard.
  2. Kedua, absorber yang dipasang selain tempatnya harus tepat, bahannya hendaknya dari mutu yang baik, karena kalau tidak maka hasilnya akan bertambah buruk.   Absorber yang terlalu tipis juga tidak baik karena tetap akan memantulkan frekuensi rendah (sekitar 125 Hz) kemana-mana dan membuat suara music menjadi tumpul dan bergemuruh.  

Alat Ukur.   Untuk memperoleh tonal balance yang sempurna (terutama bagi para audiophile) maka posisi speaker dan tempat duduk perlu dicoba ditemukan dengan tepat.   Setelah speaker di geser maju mundur, kursi juga digeser maju mundur, lalu absorber ditebalin, dipindah-pindah, lagu lagu juga sudah dicoba dari mulai jenis klasik sampai latin dan ternyata belum memenuhi selera juga, maka sudah waktunya perlu dibantu dengan alat ukur.   Fungsi alat ukur tersebut adalah untuk membantu mengetahui frekuensi mana saja yang perlu disempurnakan agar sesuai dengan yang seharusnya.   Setelah itu system kita akan dikoreksi oleh ahlinya menggunakan perangkat lain sampai system kita menjadi benar dan rekaman yang kita pandang baik, akan bersuara baik seperti yang kita inginkan, dan rekaman yang buruk ya tetap buruk.   Tetapi konon kemampuan koreksi hanyalah sampai 2 dB saja.   Beruntung, tampaknya Iheac sudah mempunyai seorang ahli untuk itu.    Semoga bermanfaat, salam Iheac.   Tjahjo Dimjati.