Articles
Selasa, 15 Des 2015
Sudah dibaca 18.237 kali
Beda kualitas suara analog dan digital
Post by : IHEAC-0297/008

Beda Suara ANALOG dan DIGITAL

 

Pendahuluan

Sudah sejak lama penulis ingin mengetahui perbedaan kualitas suara analog dan digital, selain dengan bertanya kepada teman-teman Iheac juga mencari tahu dari majalah.   Hasilnya seperti biasa, ada yang pro dan ada yang kontra.   Kali ini penulis mencoba mencari di internet, dan yang saya dapatkan adalah dari Audioholics online A/V Magazine seperti dibawah ini.   Tentu saja tulisan ini bisa dibenarkan bisa pula disalahkan.   Untuk itu apabila diantara kawan ada yang menemukan jawaban yang berbeda, ada baiknya disajikan juga di web ini agar lebih berimbang.   Bukan untuk dipertentangkan tetapi hanyalah untuk tambahan ilmu pengetahuan saja.   Selain itu tulisan ini tetap terbuka untuk diperbaiki bila ternyata ada yang tidak bersesuaian yang mungkin saja disebabkan oleh salah menterjemahkan atau menafsirkan, karena memang disingkat.

Perbedaan Cara Merekam

Seperti kita ketahui, “suara” sesungguhnya berasal dari sesuatu yang bergetar, dimana getarannya membuat kepadatan udara di sekelilingnya berubah-ubah.   Selanjutnya kepadatan udara yang berubah ubah itu merambat, sampai di telinga kita, dan kita bilang, kita mendengar “suara” dan  suara itu analog.   Suara itu dapat disimpan, direkam atau direcord, baik secara analog lagi atau secara digital.

Rekaman secara analog caranya adalah, getaran udara diubah menjadi getaran listrik dengan menggunakan peralatan elektronik.   Getaran listrik itu kemudian diubah menjadi getaran serbuk di pita (tape recorder) atau getaran pisau pembuat alur ph (piringan hitam).

Rekaman secara digital caranya adalah, getaran udara diubah kedalam serangkaian bilangan.   Bilangan bilangan ini kemudian disimpan dan dibaca kembali untuk didengarkan.   Alat pengubah getaran analog menjadi serangkaian bilangan seperti tadi adalah juga peralatan electronic yang disebut Analog to Digital Converter (ADC).

Ketepatan pengubahan dari analog menjadi digital bergantung kepada kerapatan bilangan dan kedalaman (depth) masing masing bilangan, sedangkan dalam rekaman analog, kwalitas suara bergantung kepada mutu alat perekam dan alat play back.

Perbedaan Hasil Kwalitas Suara

Beberapa waktu yang lalu ada sekelompok orang mencoba membandingkan kwalitas, antara suara analog dari PH (vinyl) dan suara digital dari CD serta FLAC.   Dalam membandingkannya mereka menggunakan lagu yang sama.   Sesungguhnya dalam teori, digital lebih unggul dari PH.   Dalam berbagai pengukuran, CD (44 Khz, 16 bit) memiliki keunggulan “dynamic range” 26 dB daripada PH.   Selain itu setidak-tidaknya CD memiliki perbedaan 40-50 dB dalam separasi stereonya.   Lalu juga tidak ada kekhawatiran keping CD akan aus atau rusak walau dipakai berulang-ulang, dsb, dsb.   Sebaliknya PH, selain ada faktor wow dan flutter dari mekanis pemutarnya, keping PH mudah cacat dan kotor sehingga suaranyapun bisa kurang bersih dibandingkan dengan CD.

Lagu.   Untuk membandingkan kualitas suara mereka menggunakan lagu, dan lagu yang digunakan ada 3 yaitu :

1. Hello I Must Be Going (Phil Collins) 1982, dalam CD dan PH.

2. Breakout (Spyro Gyra) 1986, dalam CD dan PH.

3. Kind of Blue (Miles Davis) 2010, dalam FLAC dan PH 180G.

Masing-masing lagu dibuat dengan level volume yang diusahakan sama.

Peralatan.   Peralatan yang digunakan untuk membandingkan kualitas suara adalah 4 TB HDD yang dihubungkan ke Oppo BDP-105 via USB, turntable Marantz TT-15S1, preamp analog Marantz PM-11S3, poweramp Emotiva XPR-1 1Kwatt,  speaker Status Acoustics 8T dengan kabel Kimber 8TC dan interkonek Bluejeans balanced dan unbalanced.

Penilai.   Kelompok penilai terdiri dari dua musisi profesional (A dan B), satu pemain gitar elektrik (C), si kuping emas (D), dan dua teknisi berpengalaman (E dan F).

Hasil Penilaian.   Hasi penilaian adalah sebagai berikut :

Hello I Must be Going - Phil Collins

 

 

 

 

 

 

     

CD

E

D

C

Rata2

     

PH

E

D

C

Rata2

   

Bass

9

5

10

8

     

Bass

10

7

9

8.7

   

Vocal

9

6

9

8

     

Vocal

10

8

10

9.3

   

Detail

10

6

9

8.3

     

Detail

9

8

10

9.0

   

Realisme

10

6

10

8.7

     

Realisme

10

9

10

9.7

   

Noise Flr

10

9

10

9.7

     

Noise Flr

7

6

8

7.0

   

Dinamik

10

6

9

8.3

     

Dinamik

10

8

10

9.3

   

Ovrl. Exp

10

6

10

8.7

     

Ovrl. Exp

9.5

8

10

9.2

   
                             

Breakout - Spyro Gyra

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

CD

E

D

C

F

Rata2

   

PH

E

D

C

F

Rata2

 

Bass

8

7

10

10

8.8

   

Bass

10

8

9

9

9.0

 

Vocal

10

8

-

-

9.0

   

Vocal

10

6

-

-

8.0

 

Detail

10

9

9

10

9.5

   

Detail

10

8

10

9

9.3

 

Realisme

10

8

10

10

9.5

   

Realisme

10

7

10

10

9.3

 

Noise Flr

8

9

10

9

9.0

   

Noise Flr

10

7

9

9

8.8

 

Dinamik

10

8

9

10

9.3

   

Dinamik

10

7

10

10

9.3

 

Ovrl. Exp

9.5

8

10

10

9.4

   

Ovrl. Exp

10

7

10

10

9.3

 
                             

Kind of Blue - Miles Davis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

FLAC

A

D

C

F

B

Rata2

 

PH

A

D

C

F

B

Rata2

Bass

6

6

10

10

8

8

 

Bass

9

8

10

9

9

9

Vocal

8

5

-

8

9

7.5

 

Vocal

9

8

-

10

9

9

Detail

7

6

9

8

9

7.8

 

Detail

9

8

10

10

8

9

Realisme

9

7

9

9

8

8.4

 

Realisme

10

8

10

10

9

9.4

Noise Flr

7

7

9

10

8

8.2

 

Noise Flr

8

7

8

9

6

7.6

Dinamik

8

7

9

8

7

7.8

 

Dinamik

9

8

10

10

8

9

Ovrl. Exp

8

7

10

9

9

8.6

 

Ovrl. Exp

9

8

10

10

8

9

                             

(Keterangan :  Noise Flr = Noise Floor.    Ovrl. Exp. = Overall Experience)

 

Jadi, apa yang didapat dari hasil penilaian tersebut?

Dari hasil itu sangat jelas bahwa suara dari PH masih sangat disukai sehingga dapat dipahami mengapa banyak audiophile masih menggeluti PH.   Hal itu bisa jadi karena kehati-hatian para operator waktu melakukan mastering dari musik ke PH dimana sesungguhnya kehati-hatian itu adalah berusaha menghindari kompresi berlebihan yang nantinya dapat merusak jarum.   Kehati-hatian itulah pada akhirnya menguntungkan PH.   Sungguh sangat disayangkan betapa kecerobohan telah terjadi dalam era digital.   Karena tidak adanya batasan “dynamic range” untuk digital, yang penting suara gesit dan membahana,  maka perekaman ditekan habis dengan melupakan kelemahan-kelemahan dari alat elektronik yang dipakainya.    

Jadi dapat disimpulkan bahwa cara bagaimana rekaman dilakukan akan berpengaruh besar terhadap kualitas suara.

Penafsir, Tjahjo Dimjati.