Articles
Sabtu, 28 Nov 2015
Sudah dibaca 50.464 kali
Turntable bagi Pemula
Post by :

 (Tulisan ini merupakan terjemahan bebas, yang bahannya kebanyakan berasal dari internet : Needle Doctor).   Judul ini sengaja disajikan bagi yang betul betul pemula supaya agak lebih paham bila membaca tulisan bapak Ationg mengenai turn table.

 

Pengertian

Sebelum kita memulai pembahasan, ada baiknya kita samakan dulu pengertian tentang istilah yang akan sering digunakan pada teknologi Turntable, yaitu antara lain :

 

1.     Piringan Hitam(PH).   Piringan Hitam adalah piringan tipis yang dibuat dari bahan Vinyl (biasanya berwarna hitam) yang ada alur-alur melingkarnya, dan alur itu berisi data lagu-lagu.   Piringan ini baru bisa mengeluarkan lagu bila diputar di turntable.

 

2.     Turntable.   Turntable adalah alat untuk memutar Piringan Hitam tersebut, biasanya berbentuk kotak yang dibagian atasnya terdapat sebuah piringan yang berputar.   Bagian dari turntable adalah :

a.     Platter.   Platter adalah piringan yg berputar di turntable.   Platter diputar oleh motor listrik melalui belt, atau drive-wheel, atau ada juga yang diputar langsung dari motor listrik dibawahnya (direct-drive).   Platter ini didudukkan di Plinth.

b.     Plinth.   Plinth yang dimaksud disini adalah kotaknya, yaitu bagian kotak dari turntable tsb, yang berfungsi menampung (mewadahi) semua peralatan turntable.   Kotak tersebut ada yang dibuat dari kayu, marmer, fiber, plastic, dll.   Diatas Plinth dipasang pula suatu yang berbentuk batang yang dinamai Tonearm.

c.     Tonearm.    Tonearm adalah batang panjang antara 23 cm sampai 30cm untuk memegang cartridge.   Tonearm biasanya berukuran 9 inch, 10 inch, 12 inch.   Tonearm    perlu stabil agar jarum dapat selalu tegak dalam menekan alur.   Tonearm ini tidak boleh ikut bergetar/beresonansi.   Pada ujung tonearm diletakkan Cartridge.

d.     Cartridge.   Cartridge adalah kotak kecil sebesar ujung ibujari, berisi gulungan kawat dan magnit.   Dari gulungan kawat inilah lagu-lagu akan keluar dalam bentuk tegangan listrik yang lemah, yang perlu diperkuat nantinya oleh Phono Stage.    Gulungan kawat dan magnit bisa mengeluarkan tegangan listrik karena getaran batang kecil yang disebut cantilever.  

e.     Cantilever.   Cantilever adalah batang dari logam yang sangat kecil yang menempel pada magnit kecil (utk MM), atau gulungan kawat (utk MC).   Magnit dan gulungan kawat ini diwadahi dalam kotak kecil yang disebut cartridge itu tadi.   Ujung lainnya dari cantilever dilekatkan jarum, atau needle atau stylus.

f.      Needle atau Stylus.   Needle atau Stylus adalah jarum yang dibuat dari logam(dulu), diamond atau bahan lainnya.   Jarum ini akan diletakkan di PH yang sedang berputar, dan jarum ini akan menyusuri alur yang ada di PH.   Jarum akan bergetar mengikuti data lagu yang ada dialur PH.

 

 

Lalu dari mana kita mulai ?

 

Untuk main Turntable mulailah dengan menetapkan anggaran untuk membeli turntable(pemutar piringan hitam).  Turntable yang baru, dimulai dari harga Rp. 2 juta sampai lebih dari Rp.2 juta.   Kebanyakan turntable yang ada di pasaran adalah Turntable DJ (Disc Jockey) dan Turntable Automatic yg keduanya dimaksudkan untuk entertain (acara senang-senang/santai), sedangkan utk mendapatkan turntable high-end kita perlu bertanya kpd kawan-kawan yang faham tentang kwalitas.   Perlu diwaspadai bahwa piringan hitam yang ada dipasaran pada umumnya adalah piringan hitam produksi lama, lagu-lagu lama, karena lagu-lagu baru kebanyakan direkam di CD.   Jadi, untuk anak-anak muda yang kurang menyukai lagu-lagu lama, kalau ingin bermain turntable perlu mempertimbangkan hal itu.

 

Katanya ada Turntable Otomatis?

Turntable ada banyak macamnya, tetapi dpt digolongkan menjadi 3 golongan,  yaitu turntable Fully Automatic, turntable Semi Automatic, dan turntable Manual.

1.     Fully Automatic :  Pada turntable model ini, setelah di ON-kan, turntable secara otomatis bisa menjatuhkan PH ke platter, lalu meletakkan jarum/tonearm (dari tempat asal) keatas PH yg berputar, dan bila lagu habis bisa mengangkat kembali jarum/tonearm tsb. lalu meletakkannya ke tempat asal tadi, dan terakhir mematikan aliran listrik di turntable(off).  Jadi bila kita ketiduran waktu lagu sedang diputar, jangan khawatir, karena turntable ini akan mati sendiri (off), bila lagu sdh habis.

2.     Semi Automatic :  Pada turntable ini kita biasanya perlu meletakkan jarum/tonearm secara manual keatas PH, namun bila lagu habis jarum/tonearm bisa secara otomatis kembali ketempat asal atau kalau tidak seperti itu minimal jarum/tonearm terangkat dari PH, dan lalu turntable mati (off). 

3.     Manual :  Turntable yang model ini sangat sederhana, kita harus meletakkan jarum dan mengangkatnya kembali dgn tangan kita.   Namun demikian kita juga tidak perlu khawatir, karena ada peredam yang menghidarkan jarum menyentuh PH secara kasar.

 

Mengapa orang memilih yang Manual?

Alasannya sederhana, lebih awet dan suaranya lebih bagus.   Turntable otomatis tidak bersuara bagus?   Bukan begitu.   Turntable otomatis memerlukan banyak bagian tambahan agar bisa otomatis, dan bagian tsb akan ikut ber-resonansi serta mengurangi kekokohan dari bagian yang perlu kokoh, dan pada akhirnya berpengaruh kepada mutu suara yang dihasilkan.

 

Apa yang membuat Turntable bersuara Bagus?

Banyak hal.   Beberapa hal yg sangat berpengaruh terhadap performance turntable adalah : massa (berat), rigid (kekokohan), bahan yang digunakan, motor yang perputarannya konstan, dan kemampuan mengisolasi getaran.   

 

1.     Massa.   Utk tahap awal, yang paling penting adalah massa, karena makin massif, turntable akan makin tahan dan makin resisten thd getaran yang berasal dari luar atau tahan thd resonansi yg akhirnya akan masuk ke jarum.   Utk diketahui, Jarum sebenarnya berperan seperti mikrofon.   Itulah sebabnya maka pada bagian bawah turntable, bila kita ketuk2, kita akan dengar ketukan itu di loudspeaker.

 

2.     Bahan yang Digunakan.   Masalah bahan ini juga sangat penting.   Bayangkan hal ini : ambil sebongkah metal dan lalu kita ketuk-ketuk, dan apa yg kita dengar adalah ting-ting, atau teng-teng.   Ketukan itu seperti halnya lonceng di sekolah, metal itu ber-resonansi.    Coba kalau kita ambil sepotong granit, marmer atau kayu dan juga kita ketuk-ketuk.   Ternyata ketukan itu akan mati seperti teredam (tuk, tuk).   Maka sekarang kita tahu bahwa betapa bahan yang dipakai untuk plinth dan platter berpengaruh sangat kritis bagi turntable.   Utk Plinth (kotaknya), bahan seperti MDF(multi density fiber), kayu, batu2an, dan acrylic adalah cukup bagus, dan utk Platter (piringan yg berputar), biasanya dibuat dari MDF, acrylic, alumunium, atau gelas.

 

3.     Motor.   Bila motor berputar tidak konstan tentu bisa dibayangkan bahwa suaranya sangat tidak enak.   Itulah sebabnya stabilitas perputaran motor sangat penting.   Motor itu harus bisa mengatasi naik-turun nya tegangan atau frekuensi listrik PLN.

 

4.     Isolasi.   Kemampuan isolasi turntable berkaitan erat dengan bahan yang digunakannya.   Bahan yang bagus punya kemampuan utk mencegah resonansi dan getaran masuk kembali ke jarum.   Banyak cara untuk menambah kemampuan mengisolasi getaran di turntable seperti : mengganti mat yang digunakan sebagai alas PH diatas Platter dengan karpet, gabus atau lainnya, membuat meja yang kokoh dan berat utk tempat kedudukan turntable, dll.

 

Apalagi yang membuat suara bagus ?

Yang membuat suara juga bagus adalah cartridge dan jarumnya.

 

Apa beda Jarum dan Stylus ?

Jawabnya tidak ada bedanya, Jarum adalah juga Stylus.   Secara teknis, jarum di Phono adalah diamond (intan) yang sangat kecil, yang akan menyusuri alur di PH (Piringan Hitam).   Dahulu jarum dibuat dari baja, yang setiap saat diasah agar runcing dan bisa menyusuri alur dengan baik.    Namun sekarang jarum dibuat dari intan agar lebih tahan lama dan kerugiannya, tidak dapat diasah oleh kita sendiri.

 

Apa beda Jarum dengan Cartridge ?

Cartridge adalah tempat dimana Jarum menempel.   Sebetulnya begini :  di Cartridge terdapat batang dari logam yang sangat kecil yang disebut cantilever.   Di salah satu ujung cantilever ditempelah jarum, sedangkan ujung lainnya menempel pada cartridge.   Di Cartridge, selain cantilever ada juga magnit dan kumparan (gulungan kawat).   Khusus pada cartridge jenis MM (Moving Magnet), jarum dan cantilevernya bisa diganti oleh kita sendiri.

 

Ada berapa macam Cartridge?

Ada beribu-ribu macam.   Beberapa ada yang berpenampilan gila-gilaan, sebagian lagi tampak normal, dan lainnya sederhana saja.   Pada umumnya, cartridge adalah dari jenis Standard Mount atau P-Mount, jenis Moving Magnet (MM) atau Moving Coil (MC).

 

Apa yang dimaksud Standard Mount dan P-Mount ?

·      Standard Mount.   Barangkali jenis ini adalah yang paling biasa dipasaran, dan dari jenis inilah memungkinkan suara yang dihasilkan, terbaik.   Cartridge dibaut ke tonearm menggunakan 2 baut dengan kokoh.   Cara memasang cartridge ke tonearm menggunakan prosedur yang panjang dan membosankan, antara lain adalah bagaimana membuat letak jarum di PH bisa tepat sudutnya, yaitu tegak lurus (bila dilihat dari depan) dan sekaligus miring sekian derajat (bila dilihat dari samping) sesuai kehendak Pabrik pembuat cartridge.   Selain itu dalam memasang cartridge juga harus diperhatikan kelurusannya dengan alur-alur PH yg nanti dilewatinya, juga berapa gram jarum boleh menekan PH, serta berapa angka kekuatan “anti skating”nya (karena jarum cenderung lari ketengah PH selama diputar).   Setelah selesai semua itu pada akhirnya perlu disetel lebih akurat lagi, dengan menggunakan pendengaran.   Di Iheac ada beberapa orang yang memiliki keahlian spt itu.

·      P-Mount.   Jenis ini memiliki 4 pin yang mungil dibagian belakang, dan cartridge dengan mudah dapat dimasukkan ke tonearm yang memang sesuai utk cartridge model ini.   Pemasangannya sangat mudah dan praktis, tidak perlu menggunakan prosedur seperti Standard Mount.   Walaupun terdapat beberapa model yang hebat dari jenis ini, namun mutu suara yang dihasilkan tidak sebagus yang Standard Mount (utk harga yang sama).

 

Apa yang dimaksud dengan MM dan MC ?

·      MM (Moving Magnet).   Moving Magnet sesuai namanya, yang bergetar: magnitnya, yaitu magnit yang ditempelkan di cantilever.   Sewaktu jarum menyusuri alur PH, jarum yang menempel diujung cantilever bergetar sesuai alur lagu, membuat magnit juga ikut bergetar.   Medan magnit yang bergetar akan menyebabkan kumparan (coil) menghasilkan tegangan listrik sesuai getaran jarum.   Tegangan listrik inilah yang dikirim melalui 4 kabel kecil yang ada di tonearm, keluar dari turntable melalui jack RCA dan terus ke Phono Stage.   Keunggulan MM, bila jarum telah tumpul jarum berikut cantilever dan magnitnya pada umumnya bisa diganti.

 

 

·      MC (Moving Coil).   Pada Moving Coil, yang bergetar tentu ya coil-nya.   Dua buah coil menempel di cantilever, jadi coil ikut bergetar sesuai getaran jarum.   Magnitnya berada dibelakang kedua coil.   Jarum MC tidak bisa kita ganti sendiri, tidak disediakan cadangannya.   Jadi pada umumnya bila jarum sudah tumpul, tukar tambah dgn yang baru.

Lalu Cartridge apa yang terbaik untuk turntable kita ?

Begitu banyak macamnya cartridge, bagaimana cara memilihnya bisa bergantung banyak hal.   Tetapi yang utama adalah pertimbangkan budget (anggaran) yang  kita alokasikan.

·       Budget.     Apakah kita setuju dengan pengeluaran sebesar itu, pertimbangkanlah dengan nilai lagu-lagu yg ada di PH, kwalitas sound system yg kita pakai, dan kepantasan utk mengeluarkan dana sebesar itu pada saat ini.   Bila harga turntable kita hanya Rp. 1 juta, tidaklah wajar utk membeli cartridge seharga Rp.3 juta.   Sebaliknya, bila kita rela mengeluarkan Rp.15 juta utk turntable, agaknya percuma saja akan mendapatkan suara yg optimal bila kita menggunakan cartridge seharga Rp. 500 ribu saja.

·       Mounting.   Perhatikan bentuk mounting dari cartridge yg sudah terpasang di turntable kita, jenis Standard atau P-Mount.   Tentunya kita perlu memilih cartridge yang pola mountingnya semacam itu pula.

·       Kelebihan/Kekurangan.   Setiap cartridge memiliki kelebihan dan kekurangan.   Utk itu setelah menetapkan harga yang sesuai budget kita,  bacalah atau dengarkan kelebihan yang dimiliki oleh cartridge yg akan dibeli.   Sebuah cartridge mungkin sangat “detail” dan mungkin “galak”, lebih kepada “menyerang”, sedangkan cartridge lain bisa jadi “warm” dan “welcoming”, tetapi tidak menampilkan semua detail yang ada di alur PH.   Itu semua diserahkan kpd pilihan atau selera masing-masing.

·       Berat/Ringan.   Bagi para audiophile, ada beberapa pertimbangan yang lebih kompleks dalam memilih cartridge.   Misalnya dia tidak akan memilih cartridge yang ringan untuk tonearm yang berat.   Bisa saja suara yang dihasilkan dari kombinasi tersebut baik tetapi tidak maksimal seperti yang seharusnya, dan bisa jadi membuat PH cepat rusak.   Sebagai pedoman, pilihlah cartridge ringan utk tonearm ringan, cartridge sedang utk tonearm sedang , dan berat utk tonearm berat.   Faktor lain yang jadi pertimbangan adalah juga cantilever.   Biasanya tonearm tertentu memerlukan cartridge dengan spesifikasi tertentu pula ( umumnya hal ini diketahui oleh audiophile yang berpengalaman).  

 

Bagaimana agar PH tidak cepat rusak ?

Pertama pastikan bahwa cartridge kita cukup pantas dipasang di tonearm tersebut (artinya sama bobot).   Arm tsb harus mampu memegang cartridge dengan kokoh, dan pastikan bahwa cartridge sudah duduk ditempatnya dengan benar.   Karena, apabila jarum tidak mengikuti  alur secara benar, jarum yang terbuat dari intan tsb akan menggores alur secara tidak teratur dan mengakibatkan alur-alur PH cacat, dan akibatnya PH tidak akan pernah bisa menyajikan bunyi secara benar lagi.

Usahakan PH dan jarum bersih!  

Terakhir, hendaknya kita selalu ingat bahwa setiap kita memutar lagu, kita sedang merusak jarum dan alur PH, walaupun secara sangat kecil.   Untuk itu nikmati lagu atau music sepuasnya sebelum jarum dan alur PH rusak parah.

 

 

Jakarta, 30 November 2015.

Oleh : Tjahjo Dimjati